Kusnandar Putra Hari kita kita mesti bertanya, dimana anak pondok sekarang yang dulu hafal Al-Qur’an, bisa imam, rangking di pondok? Mereka menjadi harapan masyarakat. Namun, seiring waktu, nama-nama itu perlahan menghilang dari masyarakat. Tidak tampak perannya di tengah umat. Ilmu yang dulu dihafal, kini seolah tak meninggalkan bekas. Padahal, ilmu agama yang tidak hadir di tengah masyarakat adalah kerugian besar, bukan hanya bagi pemilik ilmu, tetapi juga bagi umat secara luas. Anak pesantren yang memiliki hafalan Al-Qur’an, ilmu, namun memilih sepenuhnya menarik diri dari peran sosial keumatan, sedang menyia-nyiakan amanah besar yang pernah dia terima. Ada anak pesantren yang setelah lulus SMA atau madrasah dan memasuki fase kuliah, kerja, atau berkeluarg, semua kemampuan itu berhenti. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan orientasi hidup. Ketika seseorang memasuki dunia kerja dan mengejar ekonomi, perhatian terhadap peran sosial sering terpinggirkan. Dunia...
Kusnandar Putra Pernahkah perokok itu merenung, apa dampak ketika sebatang rokok dinyalakan di jalan raya, sementara di belakang dan di samping ada orang lain yang ikut menghirup asapnya? Merokok sambil berkendara sering dianggap hal kecil, sekadar kebiasaan pribadi yang tidak perlu dipersoalkan. Padahal, di ruang publik seperti jalan raya, tidak ada tindakan yang sepenuhnya pribadi. Asap rokok tidak berhenti di paru-paru perokok, tetapi menyebar, menempel pada pakaian pengendara lain, masuk ke napas anak-anak yang dibonceng, dan terhirup oleh siapa pun yang kebetulan berada di jalur yang sama. Dalam konteks sosial, tindakan ini mencerminkan sikap merasa berhak atas ruang bersama, seolah kenyamanan diri sendiri lebih utama daripada hak orang lain untuk menghirup udara yang bersih. Dalam ajaran Islam, prinsip dasar muamalah adalah tidak menimbulkan mudarat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِ...
Comments
Post a Comment