Dilema Menghadirkan Islam di Ruang Publik
Kusnandar Putra Fenomena sosial yang cukup mengemuka di tengah umat adalah munculnya rasa sungkan atau dalam bahasa awam disebut “malu” untuk menampilkan identitas dan nilai Islam di ruang publik. Bisa saja. . Sikap tersebut muncul dalam bentuk enggan menegur seseorang yang makan dengan tangan kiri atas nama sopan santun atau membiarkan ucapan-ucapan yang tidak pantas tanpa menegur persuasif. Ada lagi seorang santri, di sekolah dia pakai kopiah, baju gamis, tapi ketika di mall sudah beda. Lepas kopiah, baju gaul. Padahal, Islam sejatinya dihadirkan sebagai rahmat yang membawa kebaikan bagi seluruh aspek kehidupan manusia. Rasa minder ini juga tampak dalam ekspresi keberagamaan sehari-hari. Tidak sedikit yang malu mengucapkan salam di ruang kerja yang heterogen, enggan meninggalkan kepentingan duniawi untuk menunaikan shalat tepat waktu, bahkan segan menyuarakan kebenaran karena takut dinilai sok suci. Takut diklaim "Ustadz". Padahal, justru keberania...