Dilema Menghadirkan Islam di Ruang Publik

 


Kusnandar Putra


Fenomena sosial yang cukup mengemuka di tengah umat adalah munculnya rasa sungkan atau dalam bahasa awam disebut “malu” untuk menampilkan identitas dan nilai Islam di ruang publik. 


Bisa saja. .

Sikap tersebut muncul dalam bentuk enggan menegur seseorang yang makan dengan tangan kiri atas nama sopan santun atau membiarkan ucapan-ucapan yang tidak pantas tanpa menegur persuasif. 


Ada lagi seorang santri, di sekolah dia pakai kopiah, baju gamis, tapi ketika di mall sudah beda. Lepas kopiah, baju gaul. 


Padahal, Islam sejatinya dihadirkan sebagai rahmat yang membawa kebaikan bagi seluruh aspek kehidupan manusia.


Rasa minder ini juga tampak dalam ekspresi keberagamaan sehari-hari. 


Tidak sedikit yang malu mengucapkan salam di ruang kerja yang heterogen, enggan meninggalkan kepentingan duniawi untuk menunaikan shalat tepat waktu, bahkan segan menyuarakan kebenaran karena takut dinilai sok suci. Takut diklaim "Ustadz". 


Padahal, justru keberanian untuk menampilkan nilai-nilai Islam secara santun merupakan penanda kematangan iman.


Dalam perspektif Islam, kehadiran pribadi Muslim yang percaya diri mengamalkan akhlak islami di ruang publik memiliki kontribusi strategis bagi keberlanjutan peradaban umat. 


Sejarah mencatat dengan jelas bagaimana peradaban Islam tumbuh ketika muslim tersebut di ruang sosial mampu membawa perubahan. Biiznillah. 


Kehadiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah masyarakat Quraisy, misalnya, membawa transformasi paling fundamental dalam sejarah. 


Memperjuangkan tauhid, menghilangkan kesyirikan, mengokohkan akhlak, dan membangun struktur masyarakat yang beradab.


Dakwah Nabi Yusuf ‘alaihissalam pun menunjukkan bahwa Islam dapat berperan aktif dalam ruang kekuasaan dan birokrasi negara. 


Melalui integritas, kecerdasan manajerial, dan visi kesejahteraan, beliau menyelamatkan Mesir dari bencana ekonomi besar dan menampilkan teladan bahwa kedudukan publik tidak harus menjauhkan seseorang dari nilai keimanan.


Pada era yang berbeda, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah tampil sebagai pembaharu yang memurnikan kembali akidah umat di Jazirah Arab. 


Seruannya yang menegaskan kembali kemurnian tauhid dan menolak praktik syirik.


Contoh-contoh historis tersebut memperlihatkan bahwa kehadiran Islam di ruang publik membawa dampak nyata yang memperbaiki wajah masyarakat. 


Jika umat Islam menempatkan nilai-nilai syariat sebagai pedoman dalam interaksi sosial yang luas, maka ruang publik akan dipenuhi dengan iman dan akhlak. 


Karena itu, sudah sepatutnya umat Islam tidak terjebak dalam rasa malu yang berlebihan. Identitas keislaman bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk dipresentasikan dengan proporsional. 


Mulailah dari memperbaiki niat, memperkuat kualitas ilmu, memperbanyak amal saleh, serta menata kesabaran dalam setiap langkah dakwah.


Kehadiran Islam di ruang publik merupakan amanah peradaban. Dan setiap muslim dalam kapasitasnya masing-masing, memegang peranan penting di dalamnya.


Barokallohu fiikum. 

Gowa, 9 Desember 2025


#malu #berani

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru