Ke Mana Perginya Anak Pesantren?



Kusnandar Putra


Hari kita kita mesti bertanya, dimana anak pondok sekarang yang dulu hafal Al-Qur’an, bisa imam, rangking di pondok? 


Mereka menjadi harapan masyarakat. Namun, seiring waktu, nama-nama itu perlahan menghilang dari masyarakat. Tidak tampak perannya di tengah umat. Ilmu yang dulu dihafal, kini seolah tak meninggalkan bekas.


Padahal, ilmu agama yang tidak hadir di tengah masyarakat adalah kerugian besar, bukan hanya bagi pemilik ilmu, tetapi juga bagi umat secara luas. Anak pesantren yang memiliki hafalan Al-Qur’an, ilmu, namun memilih sepenuhnya menarik diri dari peran sosial keumatan, sedang menyia-nyiakan amanah besar yang pernah dia terima.


Ada anak pesantren yang setelah lulus SMA atau madrasah dan memasuki fase kuliah, kerja, atau berkeluarg, semua kemampuan itu berhenti. 


Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan orientasi hidup. Ketika seseorang memasuki dunia kerja dan mengejar ekonomi, perhatian terhadap peran sosial sering terpinggirkan. 


Dunia kerja menuntut waktu, energi, dan fokus. Tanpa kesadaran dakwah yang kuat, perlahan nilai-nilai dakwah memudar. Ilmu agama tetap ada di kepala, tetapi tidak lagi disebarkan. 


Penyebab lain adalah rasa minder. Standar yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri justru membuat seseorang enggan tampil. Akhirnya, masyarakat kehilangan manfaat dari ilmu yang bermanfaat. 


Setiap orang memiliki perjuangan hidup masing-masing. Namun, ada perbedaan besar antara sibuk dan abai. Ilmu agama, terlebih hafalan Al-Qur’an dan punya ilmu agama, bukan sekadar prestasi. Dia adalah titipan Allah. 


Persiapan ini harus diretas. 


Pertama, perlu ada kesadaran personal bahwa sekecil apa pun dakwah, ia tetap bermakna. Tidak semua harus berceramah di mimbar besar. Menjadi imam, taklim di masyarakat, menulis, menerjemah, adalah contoh nyata kepedulian. 


Kedua, lembaga pesantren dan alumni perlu membangun ikatan berkelanjutan. Perlua ada koneksi untuk saling mendukung. 


Ketiga, masyarakat dan pengurus masjid perlu lebih aktif merangkul. Jangan menunggu anak pesantren tampil sendiri. Ajak, libatkan, dan beri ruang.


Keempat, bagi para alumni sendiri, perlu ada keberanian untuk memulai. Ilmu yang diam tidak akan pernah matang, tetapi ilmu yang diamalkan yang bakal bermanfaat. 


Sebagai penutup, jika anak-anak pesantren kembali muncul ke permukaan masyarakat maka bekas ilmu itu akan kembali terlihat. Di sanalah pesantren benar-benar hidup dan alumninya bermanfaat bagi umat. 


Gowa, 18 Januari 2026

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru