YANG DILUPA SAAT DAPAT NIKMAT
Kusnandar Putra Di tengah derasnya arus informasi dan gaya hidup materialistik, syukur sering kali dipersempit hanya sebagai “ucapan terima kasih” spontan saat menerima rezeki. Padahal, dalam khazanah Islam, syukur bukan sekadar lisan, tapi ada indikator lain. Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187), rukun syukur itu ada tiga: 1. Mengakui nikmat itu berasal dari Allah. 2. Memuji Allah atas nikmat tersebut. 3. Meminta tolong untuk menggapai rida Allah dengan memanfaatkan nikmat dalam ketaatan. Pendekatannya seperti ini: Bayangkan ada seorang majikan yang baru saja pulang dari ibadah umrah. Ia membawa oleh-oleh berupa sorban indah yang dibeli khusus dari Madinah. Dengan tulus ia menghadiahkan sorban itu kepada sopirnya. Beberapa waktu kemudian, sang majikan berkunjung ke rumah sang sopir. Betapa terkejut dan perih hatinya ketika melihat sorban itu tergelar di meja, dipakai sebagai taplak. Bukan dihargai, apalagi dimuliakan...