BUDAYA ILMU

 


Oleh: Kusnandar Putra 


Kadang ada mahasiswa baca buku nanti ada tugas, nanti saat judul skripsi diterima, saat menyusun Bab I, Bab II, dll.


Mungkin hal seperti itu bukan hanya terjadi di kalangan mahasiswa. Tapi skala masyarakat, bisa jadi ada orang-orang yang nanti ada agenda khusus, barulah baca buku.


Yang hilang adalah budaya ilmu yang tumbuh secara secara kesadaran personal. Bukan hanya karena momentum khusus. 


Kalau kita kembali ke generasi salaf. Budaya ilmu sangat kental. Hidup mereka penuh dengan nuansa ilmu. Perjalan jauh bukanlah penghalang untuk belajar. 


Contoh: Dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqiil bahwasanya ia mendengar Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhainya- berkata:


"Telah sampai kepadaku suatu hadits dari seseorang yang mendengarnya dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku pun membeli unta dan melakukan perjalanan sebulan hingga sampai di Syam. Ternyata Sahabat itu adalah Abdullah bin Unais.


Aku berkata kepada penjaga pintu: Katakanlah, bahwa Jabir ada di pintu.


Penjaga pintu bertanya: Apakah itu (Jabir) bin Abdillah?


Aku pun berkata: Ya. Keluarlah Abdullah bin Unais dengan menginjak pakaiannya (karena tergesa) kemudian beliau merangkul aku, aku pun merangkul beliau.


Jabir berkata: Ada sebuah hadits yang sampai kepadaku darimu bahwasanya engkau mendengar dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tentang masalah qishash. Aku takut aku meninggal atau engkau meninggal sebelum aku mendengar hadits itu (langsung darimu)."


Lihatlah. Budaya ilmu yang kuat sekali. Padahal Jabir bin Abdillah tinggal di Madinah sementara Abdullah bin Unais di Syam. Perjalanan yang panjang. Tapi, untuk ilmu, bukan penghalang. 


Tak kalah hebat, dari kalangan wanita pun tidak kalah dalam semangat belajar.


Dari Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata,


 "Ummu Sulaim, istri Abu Ṭalḥah datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya,


 "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi janabah jika dia mimpi basah?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Iya, jika dia melihat air." (Bukhari Muslim)


Inilah yang ingin ditumbuhkan hari ini pada semua lini kehidupan. Yaitu budaya ilmu. Di lingkungan masyarakat, hadir suasana semangat belajar, mendatangi majelis ilmu. Di lingkungan pendidikan, terlihat siswa yang senang membaca buku. Di lingkungan kerja, hadir pengamalan dari ilmu. Dan semua sektor harapannya semua suka ilmu.


Sangat indah apa yang disampaikan Ibnul Qayyim rohimahullah dalam Miftah Daar As Sa'adah terkait keutamaan ilmu daripada harta. Intinya bahwa ilmu itu:


Ilmu warisannya para Nabi.

Ilmu menjaga pemiliknya.

Ilmu akan ikut ke dalam kubur.

Ilmu agama hanya dimiliki orang beriman.

Ilmu dibutuhkan para raja dan orang dibawahnya. 

Ilmu mengantarkan kepada sifat tawadhu.

Ilmu mengantar kepada kebahagiaan.


Yang menarik, kata beliau,

Cinta ilmu menjadikan seseorang menjadi hamba Allah yang sejati


Bukan menjadi budak dinar dan dirham.


Barokallohu fiikum.

Gowa, 3 Januari 2023


----


Baca tulisan lainnya di sini

Klik >> http://facebook.com/kusnandarputra7

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru