DI KELAS ADA MASYARAKAT MIKRO
Oleh: Kusnandar Putra
Ada yang menarik. Di dalam sebuah buku, ada sebuah Bab "Ruang Kelas Sebagai Sistem Sosial".
Apa yang menarik dari penjelasan sub bab di atas?
Bahwa diksi sosial berasal dari akar makna bersama-sama, bersatu, terikat, berteman, menjadikan teman, mempertemukan, dll.
Dari berbagai makna di atas, dapat disimpulkan bahwa makna sosial adalah berkenaan dengan masyarakat.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana koneksitas antara kelas dan masyarakat itu sendiri?
Maka, kita bisa menerjemahkan bahwa kelas itu adalah masyarakat mikro. Yaitu skala kecil dari masyarakat Indonesia.
Dari sini kita bisa pahami, saat guru mengajar di kelas, sebenarnya dia sedang memperbaiki masyarakat Indonesia. Dia sedang mengambil bagian terbesar. Makanya, butuh power, ilmu, semangat yang tidak biasa-biasa saja.
Jumlah penduduk Indonesia, yang kurang lebih 270jt (survei 2020), itu tergambar secara mikro dan umum di depan guru saat di kelas.
Di situlah ada siswa yang cerdas, belum cerdas, baik akhlaknya, belum baik akhlaknya, dsb-nya.
Dalam Islam, selalu saja para kita memulai dakwah dari skala mikro dan terdekat.
Allah azza wajalla berfirman,
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’araa’: 214)
Lalu, siapa yang terdekat dengan guru? Tentu siswa(i)nya sendiri.
Maka, guru jangan lupakan orang terdekatnya sendiri. Jangan sampai guru lupa hal ini. Lupa dengan sosok yang berpakaian rapi di kelasnya. Lupa dengan sosok yang sudah berdoa sebelum belajar di kelasnya. Lupa dengan sosok yang sudah siap buku, pulpen di kelasnya. Itulah murid kita.
Kelas adalah ruang dakwah bagi seorang guru. Sebagaimana khatib ruang dakwahnya adalah mimbar.
Jika hal itu sudah disadari, maka "ruang" itu haruslah tampil sosok yang kharismatik. Agar mad'u (baca: siswa) melihat teladan di depannya.
Tentulah ini perjuangan bagi guru. Tapi, satu hal yang mesti dipahami guru bahwa inilah kontribusi dia di dalam Islam. Berbagi dakwah untuk murid di ruang kelas.
Suatu ketika Syeikh Muqbil rohimahullah merenung sambil memegang janggutnya, sambil berkata,
"Wahai Muqbil, apa yang terlah kamu kontribusikan untuk Islam?"
Barokallohu fiikum.
Makassar, 11 Oktober 2022
Comments
Post a Comment