HUBUNGAN GURU DAN MURID ADALAH HUBUNGAN HATI, BUKAN HUBUNGAN ADMINISTRASI
Oleh: Kusnandar Putra, S.Pd.
Salah seorang guru di Attaqwa Qollage, Dr. Ardiansyah pernah mengatakan, "Hubungan antara guru dan murid adalah hubungan hati, bukan hubungan administrasi."
Menarik sekali kalimat ini. Ternyata relasi guru dan murid adalah relasi hati. Ada hubungan cinta di dalamnya. Jika cinta sudah ada di dalam interaksi maka nasehat akan memandu hubungan tersebut. Ada amar makruf nahi mungkar di dalamnya.
Lihatlah Imam Syafi'i rohimahullah ketika mengajari muridnya, namun muridnya belum paham tentang suatu hal,
"Muridku, sebatas inilah kemampuanku (meremedial 40 kali) mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu."
Potret Imam Syafi'i bersama muridnya adalah realitas sosial di masa dulu. Guru sangat sayang kepada muridnya. Guru sangat cinta dunia mengajar. Usaha guru dikerahkan semaksimal mungkin agar murid paham.
Bandingkan hari ini, guru kadang hanya mengajar untuk menyelesaikan administrasi. Guru merasa lega jika sudah mengisi absen. Namun, hati guru kadang tidak menyatu dengan hati murid. Sangat jauh!
Kiranya sebagai pendidik, siapa pun Anda, entah guru, tentor, mentor, dosen, bahkan orang tua, mari kembali hadirkan hati dalam mengajar. Hati dihadirkan agar dimensi pengajaran pada ruang keikhlasan. Bukan kepada hitungan "uang".
Memang dibutuhkan dana dalam belajar, tapi bukan sebagai orientasi. Orientasi pengajaran harus kepada Allah azza wajjalla, meraih ridho-Nya.
Hati pendidik perlu dibersihkan kembali. Periksa hati Anda, jika ada yang kotor, bersihkan dengan membaca Al-Qur'an, membaca buku-buku Tazkiyatun Nafs.
Makassar, 28/2/21
Comments
Post a Comment