Penyusun: Kusnandar Putra Ahad, 20 April 2025, masyarakat Pekalongan dihebohkan dengan kemunculan sumber air yang diyakini membawa keberkahan. Warga, bahkan dari luar desa, datang berduyun-duyun untuk menimba air yang dianggap sebagai berkah. Dalam waktu singkat, fenomena ini berubah menjadi ritual spontan. Dalam beberapa jam, air itu telah berubah status: dari "biasa" menjadi "berkah", dari "air" menjadi "harapan Namun, dalam tempo yang tak lama, aparat dan petugas teknis PDAM memastikan bahwa sumber air tersebut hanyalah akibat dari pipa yang bocor. Seketika, euforia publik surut, dan lokasi yang semula ramai kembali sepi. Jangan tertawakan peristiwa ini. Tapi, lahirkan kesedihan yang mendalam tentang adanya akidah yang tercoreng. Di sinilah muncul satu pertanyaan sosiologis: Mengapa masyarakat begitu mudah menyematkan label “berkah” pada fenomena yang belum terverifikasi secara ilmiah maupun syar’i? Dalam dunia ilmu pengetahuan, kita menyebutny...
Comments
Post a Comment