Penyusun: Kusnandar Putra Ahad, 20 April 2025, masyarakat Pekalongan dihebohkan dengan kemunculan sumber air yang diyakini membawa keberkahan. Warga, bahkan dari luar desa, datang berduyun-duyun untuk menimba air yang dianggap sebagai berkah. Dalam waktu singkat, fenomena ini berubah menjadi ritual spontan. Dalam beberapa jam, air itu telah berubah status: dari "biasa" menjadi "berkah", dari "air" menjadi "harapan Namun, dalam tempo yang tak lama, aparat dan petugas teknis PDAM memastikan bahwa sumber air tersebut hanyalah akibat dari pipa yang bocor. Seketika, euforia publik surut, dan lokasi yang semula ramai kembali sepi. Jangan tertawakan peristiwa ini. Tapi, lahirkan kesedihan yang mendalam tentang adanya akidah yang tercoreng. Di sinilah muncul satu pertanyaan sosiologis: Mengapa masyarakat begitu mudah menyematkan label “berkah” pada fenomena yang belum terverifikasi secara ilmiah maupun syar’i? Dalam dunia ilmu pengetahuan, kita menyebutny...
Penyusun: Kusnandar Putra Pada November 2024, saya berkesempatan bertemu kembali dengan Pak Anis, dosen saya semasa kuliah di jurusan Pendidikan Fisika, Unismuh Makassar. Yang juga merupakan guru Fisika di SMAN 9 Makassar. Kami bertemu secara tak sengaja di Masjid Al-Ikhlas Bakda Dzuhur, Perumahan Griya Fajar Mas, Makassar—sebuah pertemuan yang terjadi setelah hampir 13 tahun lamanya berpisah. Dalam pertemuan itu, kami terlibat dalam perbincangan panjang mengenai dunia pendidikan. Beliau bercerita banyak, membagikan pengalaman serta motivasi yang juga ia dapatkan dari sahabatnya, tentang pentingnya peran seorang guru—terutama di jenjang SMP—sebagai fondasi utama dalam menanamkan adab dan karakter kepada siswa. Menurut beliau, mendidik di tingkat SMP memiliki tantangan yang khas, namun justru di sanalah nilai-nilai dasar bisa tertanam kuat. Hal ini berbeda dengan dunia perguruan tinggi, di mana tantangan seorang dosen sering kali lebih berat karena mahasiswa telah membe...
Comments
Post a Comment