Menyoal Kompetensi Guru
Oleh Kusnandar Putra, S.Pd. (Terbit di Tribun Banjarmasin Post)
Apapun kurikulumnya, guru yang jadi poros utama. Itu yang seharusnya menjadi perhatian.
Guru menjadi sosok yang paling penting perannya dalam pendidikan. Bisa dikatakan, kualitas guru berbanding lurus dengan keberhasilan guru.
Namun, dewasa ini kita melihat banyak hal yang menurun dalam pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016, pendidikan di Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang dan kualitas guru menempati ukuran ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia. Miris sekali.
Belum lagi, data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) saat melakukan penelitian Right to Education Index (RTEI) guna mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di berbagai negara.
Hasil penelitian menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih di bawah Ehtiopia dan Filipina.
Hal ini menjadi ironi, sebab pemerintah telah menggelontorkan APBN untuk alokasi pendidikan ini sangat besar.
Sejak tahun 2016 mencapai 370,4 T hingga tahun ini (2019) menyentuh angka 492,5 T.
Padahal, pemerintah telah berupaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia ini, mulai dari kehadiran kurikulum 2013, peningkatan efektivitas BOS, program Indonesia Pintar, dan sebagainya.
Akan tetapi, masih saja ada persoalan kompleks dalam pendidikan kita.
*Penyebab Terbesar*
Dari berbagai sumber dan juga pengamatan penulis sebagai tenaga pendidik, ditemui banyak faktor rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
*Pertama*, rendahnya kualitas tenaga pendidik. Faktanya, tahun 2015, hasil Uji Komptensi Guru (UKG) rata-rata nasional hanya 44,5, jauh di bawah nilai standar 75.
Bahkan kalau ditanya kepada sebagian guru tentang soal UKG, mereka banyak mengeluh susahnya soal tersebut. Sebenarnya bukan soalnya susah, tapi sebagian guru tidak mau naik level dalam belajar.
Selalu saja bertahan di zona nyaman alias tidak mau belajar lagi. Inilah menjadi faktor terbesar.
*Kedua*, guru tidak mau memperbaiki pola pengajaran. Di sana ada saja guru yang hanya menggunakan metode ceramah.
Guru hanya membaca buku lalu anak-anak menulis. Artinya proses belajar mengajar hanya satu arah. Akhirnya, siswa bosan karena monoton.
*Ketiga*, guru tidak melek teknologi. Di era 4.0 ini harusnya memicu guru untuk lebih memperluas wawasannya tentang teknologi. Siswa rata-rata telah memiliki smartphone. Dia bisa mengakses apa saja dari alat komunikasi tersebut.
Oleh karena itu, guru juga harus tahu tentang teknologi guna memperbarui informasi bagaimana kemajuan pembelajaran era sekarang. Sungguh muris jika siswa lebih tahu mengoperasikan smartphone dibandingkan guru sendiri.
Siswa tahu bagaimana cara mendownload modul, tapi guru sendiri tidak mengerti. Hal itu yang terjadi saat ini.
*Meningkatkan Kualitas*
Dari pengalaman dan pengamatan penulis yang juga sebagai guru, setidaknya ada 2 hal yang bisa dilakukan guna meningkatkan kualitas pengajaran guru di Indonesia.
*Pertama*, guru harus kuat berliterasi. Guru harus banyak membaca dan menulis. Di tengah ramainya informasi lewat media sosial, menjamurnya sarana belajar via online, guru harus makin cerdas.
Bayangkan saja, sekarang pemerintah sudah merilis akses belajar online bernama Rumah Belajar.
Di sana guru bisa belajar bersama siswa. Ini tiada lain untuk meningkatkan kualitas guru. Selain itu, guru juga bisa membentuk atau bergabung dalam komunitas guru di aplikasi pesan whatsapp guna membahas dunia pendidikan dan saling berbagi ilmu dan pengalaman.
*Kedua*, guru serius merancang model pembelajarannya. Di lingkungan sekolah, masih banyak guru yang hanya datang ke sekolah tanpa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Kebiasaan ini harus ditinggalkan. Guru harus tahu model pembelajaran apa yang dia pakai, bagaimana pendekatannya, metode apa, dan teknik seperti apa.
Di sini lah dibutuhkan keseriusan guru dalam memaknai sendiri profesinya. Dia punya tanggung jawab dalam memenuhi tugasnya sendiri.
*Variasi Media Pengajaran*
Hal yang paling dekat dengan siswa adalah media pengajaran itu sendiri. Pendidik mestinya menyiasati media apa yang cocok dengan materinya.
Sehingga belajar lebih bermakna. Media adalah sarana yang berfungsi untuk menyampaikan informasi. Guru bisa menggunakan ragam variasi media.
*Pertama*, menggunakan gambar, foto, sketsa dalam mengajar. Tujuannya agar konten materi lebih nyata dan tervisualisasikan ke siswa.
Contoh, saat guru IPS mau memperkenalkan tentang ragam rumah adat di Indonesia, guru bisa menyajikan di depan siswa beberapa foto rumah adat yang telah tercetak.
*Kedua*, peta atau globe, atau era sekarang populer penggunaan google maps untuk menyajikan data-data lokasi. Seperti tempat dan jarak suatu tempat.
Contoh, ketika guru matematika ingin mengukur berapa jarak dari kota A ke kota B, guru bisa menggunakan google maps untuk mengukurnya.
*Ketiga*, mengajak siswa ke laboratorium. Guru materi sains seperti IPA, Fisika, Kimia, Biologi, sangat diharapkan membuat praktikum, karena tingkat kepahaman siswa lewat praktikum lebih cepat daripada auditori/mendengar.
Berdasarkan pengalaman penulis yang juga guru IPA, ternyata siswa sangat senang dengan praktikum.
Contoh, saat penulis mau menyampaikan materi IPA kelas VII tema Mencair dan Memadat, siswa berpraktikum terlebih dahulu. Dengan memanaskan lilin menggunakan spiritus sebagai proses mencair, selanjutnya setelah mencair lilinnya, dimasukkan lagi ke dalam wadah yang berisi air es.
Hasilnya lilin tadi kembalili memadat. Ini membuat siswa lebih mengerti pelajaran.
*Keempat*, menggunakan laptop atau perangkat komputer. Ini termasuk media yang banyak disukasi oleh siswa. Dengan adanya laptop, guru bisa memberikan juga tambahan wawasan dari internet.
Guru bisa mengakses laman Portal Rumah Belajar https://belajar.kemdikbud.go.id dari Kementerian Pendidikan.
Di sana banyak sekali menu pelajaran buat guru maupun siswa, mulai dari tingkat SD sampai SMA.
*Kelima*, study tour. Pengalaman siswa ke museum, panti asuhan, masjid, kebun binatang, taman bunga, adalah hal yang tak terlupakan oleh siswa jika memang ada pelajaran terkait materi pelajaran di sana.
Di setiap daerah, pasti ada saja lokasi-lokasi yang menyimpan banyak sejarah dengan segala nilai-nilainya. Hal ini tentu sangat patut dimanfaatkan oleh tenaga pendidik.
Masih banyak lagi variasi media pengajaran jika guru benar-benar terus belajar dan meng-upgrade dirinya.
Bagaimana pun, guru harus meningkatkan kualitasnya, baik dari sisi mindset, pengajaran, dan media pembelajaran. Guru harus berubah dari konvensional ke modern.
Guru harus familiar dengan teknologi dan terus meningkatkan literasinya (digitally literated). Semua ini untuk kebaikan diri masing-masing, generasi masa depan, dan untuk kemajuan Indonesia.[]
Comments
Post a Comment