Obat yang Terjatuh
Oleh: Kusnandar Putra (Penulis Quotes for Muslim)
Agenda kami sekeluarga, biasanya ke rumah orang tua. Soalnya anak kami: Hanin, selalu dirindukan oleh neneknya. Hanin adalah anak salehah kami yang pertama sejak tahun 2012 dari pernikahan.
Saat usianya sudah 9 bulan, kami membawanya ke rumah neneknya. Kurang lebih 30 menit, sudah tiba di sana.
Sampai di sana menggunakan sepeda motor, Hanin selalu disambut hangat.
"Datang lagi...," neneknya langsung menjemput Hanin sambil mengecup.
Hanin pun mulai merangkak di dalam rumah. Ia leluasa bermain. Ke sana, kemari. Masyaallah, saya dan istri, melihatnya dalam suasana menyenangkan. Itulah dunia anak.
Adzan isya berkumandang. Saya bergegas menggunakan gamis. Lalu, berangkat ke masjid Darul Falah. Masjid yang tak jauh dari rumah.
Usai salat, saya kembali ke rumah. Namun, saat itu, dikejutkan dengan kabar tak indah dari Ibu saya.
Sambil memberi salam masuk ke rumah.
"Nandar, anakmu..," suara Ibu gelisah, "baru saja minum obat hipertensi!"
"Kenapa bisa?" saya cemas.
"Tadi itu, Hanin merangkak ke sana kemari, tapi tidak ada yang lihat. Akhirnya, dia minum obat saya yang jatuh tercecer," jelas Ibu mengungkapkan kronologisnya.
"Jadi, gimana ini?"
"Ayo, bawa ke dokter praktik anak cepat. Saya panggil dulu Om-mu, antar pakai mobilnya."
Saya dan istri mulai bergegas. Mobil Om sudah di depan rumah. Kami pun berangkat.
Di tengah perjalanan, saya membatin, "Mungkin selama ini saya banyak dosa kepada anak. Ya Allah, ampuni saya. Sembuhkan anak kami."
Kami tiba di tempat praktik dr. Maryam, Sp.A. di Jln. Alauddin, Makassar.
Ibu dan istri, langsung ke bagian administrasi. Kami langsung dipersilakan ke ruangan dokter, tanpa harus ber-antri. Lantaran ini kasus darurat.
"Ada apa?" dokter memperjelas.
"Sudah minum obat, Dok!" jelas istri saya didampingi Ibu.
"Obat apa yang dia minum?" dokter sambil memeriksa dengan stetoskop.
"Obat hipertensi."
"Aiih, anaknya sudah pucat. Badannya sudah membiru."
Lanjut dokter, "Segera bawa ke Rumah Sakit Labuang Baji. Langsung ke poli anak. Nanti saya menyusul."
Kami kemudian bersegera naik ke mobil. Dalam perjalan 15 menit, sampailah di sana.
Saya menggendong Hanin turun dari mobil. Lalu, mempercepat langkah menuju ke poli anak.
Beberapa perawat sedang duduk.
"Kenapa ini?" tanya perawat sambil melihat Hanin.
"Di suruh dr. Maryam ke sini karena sudah minum obat hypertensi," istri saya menjelaskan.
"Bawa masuk ke ruang tindakan," arahanya.
Akhirnya, Hanin mulai dipasangkan infus. Ini adalah kali pertama anak kami masuk ke rumah sakit. Di usianya yang masih kecil, dia harus menerima ketentuan ini.
Ya Allah, sembuhkanlah anak kami. Sesungguhnya engkau Maha mampu atas segalanya.
Dokter Maryam datang dengan langakah cepatnya. Stetoskop itu masih melingkar di lehernya menuju ruang tindakan.
Pada saat itu, Hanin berada dalam kerumunan perawat karena baru sudah diinfus.
Dokter mendekat sambil bertanya, "Sudah dipasang infusnya?"
"Sudah, Dok," kata perawat.
Saat itu, makin pecahlah tangisan Hanin.
Dokter memasukkan selang ke hidungnya untuk memasukkan cairan ke lambung. Sementara, saya sendiri diberi resep obat yang akan di masukkan nanti ke lambungnya bersamaan dengan cairan.
Proses "pencucian" lambung tersebut berlangsung dengan suara tangisan yang membuat hati orang tuanya teriris.
Hanin mulai memuntahkan apa saja yang ada di lambungnya. Muntah dan muntah. Itulah reaksi dari proses itu semua.
Bersamaan dengan itu, istri saya pun lansung disuruh keluar dari ruang tindakan. Pintu ditutup. Mungkin supaya hati orang tuanya tidak terlalu sedih.
Saya segera ke apotik. Usai dari sana, saya cepat kembali. Dan langsung memberi obat ke suster.
Tatapan saya kembali keluar. Melihat Ibu dan istri.
"Kamu sabar, ya," nasehat Ibu.
Ibu melanjutkan, "Nandar, coba kamu dekati istrimu di sana."
Saya melihat, istri saya sedang menyandarkan badannya di dinding. Membelakangi kami semua. Saya tahu, di balik cadarnya, ia tengah meneteskan air mata iba. Air mata seorang ibu yang baru saja dikaruniani anak, namun anaknya kini tengah diuji.
Saya mendekatinya sambil digenggaman ada sebotol air minum.
"Ini air minum. Minum dulu," saran saya untuk sedikit menenangkan perasaannya.
Istri saya hanya menggelengkan kepalanya. Tanda ia tak berminat. Sungguh ... saya tahu kondisi ini, bahwa kesembuhan Hanin, lebih utama daripada keperluan dirinya. Ya Allah....
15 menit kemudian...
Pintu ruang tindakan dibuka. Kami deg-degan dengan hasilnya.
"Sudah," suara dokter dengan nada kesyukuran, "sudah keluar semua obatnya."
Alhamdulillah... Kami semua bersyukur pasca tuturan dokter Maryam.
Istri saya langsung masuk menjenguk anak salehahnya. Hanin masih saja menangis. Tetiba, ibunya langsung mengelus kepala Hanin, mencium, dan mendekapnya.
Alhamdulillah. Semua bersyukur saat ini. Om, Ibu, istri, dan tentu saja saya ini.
Saya menasehati Hanin yang sudah 3 tahun waktu i
tu, "Nak, jangan lagi minum obat sembarangan, ya."
"Iya," tutur Hanin dengan menampakkan senyumnya.[]
Comments
Post a Comment