Para Dai segera Dakwah Virtual, Sekarang Waktunya..

 Oleh: Kusnandar Putra


Para dai sudah saatnya ambil bagian. Berdakwah secara virtual. Sebab, sekarang ini khalayak makin gemar bermedia sosial. Disebabkan WFH, BDR, atau apa pun istilahnya. Tentu ini menjadi keniscayaan peluang dakwah besar di ranah online.


Bayangkan saja, pengguna media sosial saat ini meningkat. Kompas.com sempat melayangkan berita bulan November 2020.

Berjudul "Pengguna Internet Indonesia hingga Kuartal II 2020 Capai 196,7 Juta Orang". 


Artinya apa? Kalau total penduduk Indonesia 250-an juta, berarti hampir 70% warga Indonesia mengakses internet. 


Logikanya gini, kalau ada 10 orang dalam keluarga: 3 orang tidak tahu gunakan internet, tapi 7 orang sisanya main HP kerjanya.


Bayangkan. Betapa besarnya peluang dakwah virtual. Dakwah itu adalah tugas Anda, saya, bahkah mereka umat Islam. Jangan salah artian dakwah itu hanya tugas ustaz. Dakwah artinya "mengajak, menyeru, kepada Allah". Itu semua peran bagi tiap lapisan masyarakat.


Dakwah ini tugas mulia. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 


"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” 

(QS. Ali Imran: 104)


Syaikh As-Sa'di rohimahullah menafsirkan ayat di atas,

"Ayat ini merupakan petunjuk dari Allah kepada kaum mukmin, yakni hendaknya di antara mereka ada segolongan orang yang mau berdakwah dan mengajak manusia ke dalam agama-Nya. Termasuk ke dalamnya adalah para ulama yang mengajarkan agama, para penasehat yang mengajak orang-orang non muslim ke dalam Islam, orang yang mengajak orang-orang yang menyimpang agar dapat beristiqamah, orang-orang yang berjihad fi sabilillah, dewan hisbah (lembaga amr ma'ruf dan nahi munkar) yang ditunjuk pemerintah untuk memperhatikan keadaan manusia dan mengajak manusia mengikuti syara' seperti mengajak mereka mendirikan shalat lima waktu, berzakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu dan mengajak kepada syari'at Islam lainnya, demikian juga memperhatikan pasar, bagaimana timbangan dan takaran yang mereka gunakan apakah terjadi pengurangan atau tidak, serta melarang mereka melakukan kecurangan dalam bermu'amalah. Semua ini hukumnya fardhu kifayah. Bahkan tidak hanya itu, segala sarana yang menjadikan sempurna amr ma'ruf dan nahi munkar, sama diperintahkan, misalnya menyediakan perlengkapan jihad untuk dapat mengalahkan musuh, mempelajari ilmu agar dapat mengajak manusia kepada kebajikan, menuliskan buku-buku yang berisikan ajaran Islam, membangun madrasah untuk mengajarkan agama, membantu pihak berwenang (dewan hisbah) mewujudkan syari'at, dsb. Mereka inilah orang-orang yang beruntung, yakni memperoleh apa yang mereka inginkan dan selamat dari hal yang mereka khawatirkan. Pada ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang mereka bertasyabbuh (menyerupai) Ahli Kitab yang berpecah belah dalam beragama, terlebih perpecahan mereka terjadi setelah datang keterangan yang jelas." (tafsirweb.com)


Dakwah virtual memang punya tantangan sendiri. Khususnya bagi dai itu sendiri. Apakah dia mampu menulis dakwah di internet. Apakah bisa merekam dakwah lalu upload. Karena butuh skill. Tapi di sinilah tangan dakwah. Dai harus belajar juga menulis dakwah. Paham cara merekam video dakwah. Gimana agar audionya jelas.


Kalau memang itu repot, dai bisa membuat tim. Ada yang bagian recording, bagian editing, dsb. Libatkan semua SDM. Karena penunjang dakwah virtual adalah media itu sendiri.


Dalam ilmu komunikasi dakwah, setidaknya ada 4 hal yang saling bersinergi. Yaitu, 

1. Dai, yang mengajak

2. Mad'u, yang diajak

3. Materi, konten dakwah

4. Media, saluran dakwah


Nah, dakwah virtual sangat butuh media. Butuh channel. Katakanlah youtube, facebook, ini semua medianya. 


Ada sebuah teori yang bernama Hypodermic Needle Theory dalam ilmu komunimasi, yaitu teori jarum suntik. 


Apa ini? 

Bahwa media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang. Anggaplah "untuk sementara" facebook, youtube, dll itu adalah "media massanya dai". Meskipun pada tataran epistimologi sebenarnya berbeda. Namun, ini menarik teorinya, yaitu kapan dai punya media sosial, berarti dia punya kemampuan memberi stimulus kepada mad'u, sehingga mad'u bisa merespon yang sama.


Sederhananya gini, jika dai berdakwah tentang salat di medianya, hal itu punya pengaruh besar berhasilnya mad'u agar mereka salat. Tentu ini kembali hidayah dari Allah


Olehnya itu..

Dai segera ambil bagian.


Tentu tantangan dakwah virtual ini banyak. Seperti hadirnya sosok-sosok yang membawa agenda kesyirikan, bid'ah, syubhat, syahwat, paham sekularisme, dll. Kalau dai tidak hadir menangkal bahkan membantah, siapa lagi?


Sekaranglah saatnya. 

Dai segera berdakwah virtual.


Gowa, 27/1/21

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru