Renungan untuk Khatib Jumat di Masjid Orang Awam
Oleh: Kusnandar Putra
Ada beberapa hal yang mesti jadi renungan bagi seorang khatib, apalagi khatib yang ahlusunah saat diamanahkan di masjid awam.
1. Pakaian yang rapi
Seorang khatib jangan pakaiannya biasa saja, tidak disetrika, tidak pakai parfum, dll. Sebab, orang awam itu sangat senang dengan hal yang rapi dan harum.
Harusnya khatib memerhatikan hal ini.
2. Jangan datang terlambat.
Kadang kala ada khatib yang tiba di masjid saat masuk waktu injuri time, akhirnya pengurus masjid sudah deg-degan dari awal.
Cobalah Anda sebagai khatib datang lebih awal, misalkan jam 11.30 sudah tiba di masjid. Duduk di bagian terdepan.
Bukan lagi alasan "tadi macet". Seba hal itu bisa diantisipasi sejak awal. Anggap jika sudah diprediksi macet, berangkatlah jam 10.30 misalkan dari rumah.
3. Tidak menghadap jamaah
Ini penting, karena menghadapkan wajah ke jamaah menambah antusiasme jamaah untuk fokus.
Khatib jangan terlau sering menunduk. Tidak mengapa membaca teks, tapi sekali kali hadapkan wajah ke jamaah.
4. Mainkan intonasi
Seorang khatib alangkah baiknya tahu kapan naik suara dan normal. Perpaduan intonasi membuat nuansa berkhutbah lebih berkualitas.
Saya tertarik dengan khutbah Syaikh Said Ruslan, di situ Anda melihat syaikh memainkan retorikanya.
Juga Anda bisa belajar cara khutbah Ustaz Khidir. Pun juga memainkan intonasi dengan elegan.
Tentu ini dengan belajar. Makanya khatib itu sebelum Jumat, coba konsep dulu naskah khutbahnya, lalu temukan kata apa naik suara. Di kalimat apa butuh ketegasan. Semua pakai perencanaan.
5. Isi Khutbah Tidak Menarik
Nah, ini paling urgen. Ini yang sering membuat jamaah mengantuk. Ini yang kadang tidak membawa perubahan pada diri jamaah.
Ada baiknya kita merinci tentang "isi" khutbah ini:
a. Tidak ada informasi baru.
Selaku khatib, hendaknya punya literasi yang kuat. Bacaannya banyak. Misalkan saat membacakan tafsir, jangan hanya dari ulama A yang sudah sering jamaah dengar, jangan monoton, coba variasikan dengan ulama B atau C. Sehingga ada informasi tambahan yang jamaah dapatkan.
b. Tidak ada pendalaman.
Sebagian khatib, kadang tidak menjelaskan sebuah diksi tertentu. Padahal diksi itu harusnya ditahu dulu dari awal sebelum maju ke pembahasan selanjutnya.
Contoh, saat menjelaskan kata "takwa", sebenarnya ini umum. Jamaah sudah bisa tebak apa endingnya, yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Nah, di sinilah peran khatib beri pendalaman dulu. Coba katakan,
"Takwa ini sebenannya dari asal kata wiqoyah, yaitu menahan diri, memelihara diri. Apa maksudnya?..."
Dari situ khatib memulai dulu.
c. Tidak ada contoh.
Jamaah awam itu butuh contoh konkrit, bukan penjelasan umum. Karena mereka mau praktik langsung.
Olehnya itu, kalau ada pembahasan khusus, beri contoh.
Misalkan, penjelasan ikhlas dalam beramal saleh.
"Jamaah, orang yang ikhlas, dia salat ke masjid bukan karena mau dilihat oleh tetangganya. Orang yang ikhlas, dia bersedekah bukan karena mau disebut namanya oleh protokol. Tapi, dia salat karena semata-mata mencari rida Allah.
d. Tidak ada kisah.
Jamaah itu senang dengar kisah. Makanya khatib boleh bacakan kisah dari Al Quran, dari hadis, atau para ulama.
Kisah membuat jamaah lebih paham.
Padukan materi dan kisah, insyaallah lebih menyentuh untuk jamaah awam.
____
Saya kira demikianlah informasi seputar renungan untuk khatib Jumat. Bukan untuk mennggurui teman-teman, tapi hanya untuk berbag
i informasi.
Semoga bermanfaat
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Comments
Post a Comment