Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor
Penyusun: Kusnandar Putra
Ahad, 20 April 2025, masyarakat Pekalongan dihebohkan dengan kemunculan sumber air yang diyakini membawa keberkahan. Warga, bahkan dari luar desa, datang berduyun-duyun untuk menimba air yang dianggap sebagai berkah.
Dalam waktu singkat, fenomena ini berubah menjadi ritual spontan. Dalam beberapa jam, air itu telah berubah status: dari "biasa" menjadi "berkah", dari "air" menjadi "harapan
Namun, dalam tempo yang tak lama, aparat dan petugas teknis PDAM memastikan bahwa sumber air tersebut hanyalah akibat dari pipa yang bocor. Seketika, euforia publik surut, dan lokasi yang semula ramai kembali sepi.
Jangan tertawakan peristiwa ini. Tapi, lahirkan kesedihan yang mendalam tentang adanya akidah yang tercoreng.
Di sinilah muncul satu pertanyaan sosiologis: Mengapa masyarakat begitu mudah menyematkan label “berkah” pada fenomena yang belum terverifikasi secara ilmiah maupun syar’i?
Dalam dunia ilmu pengetahuan, kita menyebutnya sebagai *krisis epistemologi publik*—yakni kegagalan masyarakat karena tidak lagi tahu bagaimana cara mengetahui sesuatu itu benar atau salah.
Masyarakat sebagian di Indonesia kadang menghadapi sebuah *anomali spiritual*: di satu sisi, masyarakat haus akan nilai-nilai spiritual; di sisi lain, pendekatan terhadap spiritualitas itu seringkali kehilangan fondasi ilmiah dan dalil yang shahih.
Mereka ingin dekat dengan Allah, tetapi tak jarang tersesat dalam FOMO simbolik yang justru menjauhkan dari kemurnian tauhid.
Padahal, Islam tidak menganjurkan sikap FOMO (ikut-ikutan). Sebaliknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan ilmu sebagai fondasi untuk membedakan antara yang hak dan batil.
Nabi shallallahu alayhi wasallam bersabda,
*طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ*
*"Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim."* (HR. Ibnu Majah)
Tak cukup sampai di situ, Rasulullah pernah menegur para sahabat yang baru masuk Islam.
Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu, dia menceritakan:
Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri’tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka.
Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata,
“Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra’il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (QS. al-A’raaf: 138)
Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi)
Kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya religius secara insting, tetapi juga religius secara metodologis.
Masyarakat yang menyaring informasi bukan dengan emosionalitas saja, tetapi dengan ilmu agama ditopang dengan dalil.
Akhirnya, keberkahan sejati bukanlah pada air yang mengalir dari kebocoran teknis PDAM, melainkan pada ilmu yang mengalir dari Al Quran dan hadis lalu diamalkan dalam kehidupan.
Gowa, 24 Syawal 1446 H/22 April 2025

Comments
Post a Comment