Nalar Kritis Siswa

 

Kusnandar Putra


Dalam dunia pendidikan, ada momen-momen berharga yang kerap hadir tanpa kita rencanakan.


Salah satunya adalah ketika seorang siswa mengajukan pertanyaan yang kadang mereka belum tahu jawabannya.


Seperti tadi siang, 21 Mei 2025, di kelas 8A, saya ditanya, 


"Ustaz, duluan mana, telur atau ayam?"


Dan tentu masih hanya model pertanyaan seperti ini yang diajukan siswa. Baik di sesi akhir pelajaran atau di tengah pelajaran. 


Tak kalah dengan kelas 8A, di SMA kelas 11A, saya juga sempat ditanya,


“Ustaz, apa hukum menyembelih hewan dengan pembiusan?"


“Ustaz, bagaimana jika di akhirat nanti kebaikan dan keburukan seseorang nilainya sama? Apakah masuk surga atau neraka?” 


Sekilas, pertanyaan semacam ini mengandung permata yang tak boleh diabaikan yaitu nalar kritis yang sedang menyala.


*Nalar Kritis: Pilar Generasi Pembelajar*


Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar iseng atau sekadar ingin terdengar berbeda. Ia lahir dari proses berpikir yang mendalam, dari keingintahuan yang tulus untuk memahami realitas secara utuh.


 Inilah salah satu bentuk paling murni dari *critical thinking*, yaitu kemampuan yang menjadi bagian penting dalam Profil Pelajar Pancasila dan juga kunci dalam kurikulum merdeka. Yang juga bakal ada di pendekatan deep learning. 


Seorang pendidik tentu jangan mematikan pertanyaan semacam itu, tetapi justru mengakomodasinya. 


Siswa yang gemar bertanya out of the box umumnya memiliki motivasi intrinsik yang tinggi. Mereka tidak belajar semata-mata karena ujian, tetapi karena haus akan pemahaman. 


Ketika seorang siswa bertanya tentang akhirat, tentang adab penyembelihan, atau bahkan tentang sains, itu adalah sinyal bahwa ia sedang menautkan pelajaran dengan kehidupan nyata.


Itulah makna sejati dari *meaningful learning*, belajar yang bermakna.


Ini adalah kesempatan emas untuk menumbuhkan semangat literasi. Sebab, untuk menjawab pertanyaan seperti itu, guru tidak cukup mengandalkan hafalan. Ia harus terus membaca, menggali referensi. Maka, siswa yang bertanya di luar kebiasaan seharusnya tidak membuat guru defensif, tapi justru membuat guru tumbuh.


Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan pentingnya *lifelong learning* bagi seorang pendidik. 


Di era digital, siswa dapat mengakses berbagai sumber secara instan, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, tetapi menjadi fasilitator dan penuntun intelektual.


 Peran guru berubah dari *the sage on the stage* menjadi *the guide on the side*. Sikap ini menciptakan suasana kelas yang dialogis, bukan monologis.


Pertanyaan out of the box adalah manifestasi dari keberanian berpikir merdeka. Tentu, bukan berarti semua pertanyaan harus ditanggapi secara serius. Guru bisa menyaring yang mana soal-soal yang butuh jawaban. 


Barokallohu fiikum


Gowa, 21 Mei 2025

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru