Optimis Mendidik

 

Kusnandar Putra


Jika Allah sudah menghendaki, tak ada satu pun kekuatan di muka bumi ini yang mampu menghalangi. 


Kalimat ini bukan sekadar retorika, tetapi nyata tergambar dalam kisah luar biasa seorang pemuda asal Libya, Amer Al Mahdi Mansour Al Gaddafi. 


Dua kali ia tertinggal pesawat yang akan membawanya ke Tanah Suci untuk berhaji, namun akhirnya ia berhasil berangkat.  


Bagaimana bisa?


Amer dijadwalkan terbang ke Arab Saudi bersama puluhan jamaah lainnya. Namun setibanya di Bandara Sebha, Libya Tengah, langkahnya tertahan. Petugas Imigrasi menghentikannya. Bukan karena ia tidak memenuhi syarat administratif, tetapi karena satu nama di belakangnya: Gaddafi. 


Nama yang mengingatkan dunia pada sosok Muammar Gaddafi, mantan Presiden Libya yang dianggap kontroversial. 


Nama itu membawa beban sejarah dan citra politis yang membuat pihak imigrasi ragu.


Di saat jamaah lain sudah menaiki pesawat, Amer masih tertahan. Ia memohon, namun pesawat tetap tinggal landas tanpa dirinya. Dalam sekejap, mimpinya seakan buyar. 


Tapi tidak bagi Amer. Ia memilih bertahan. “Saya tidak akan pindah dari sini kecuali untuk haji,” tekadnya bulat.


Pesawat yang telah meninggalkannya mendadak mengalami gangguan teknis dan terpaksa kembali ke bandara. 


Saat pesawat mendarat, staf maskapai sesungguhnya berusaha memfasilitasi Gaddafi agar diperbolehkan naik pesawat dengan meminta pilot membuka pintu. Sayang pilot menolak dengan alasan kendala logistik karena mesin masih menyala.


Pesawat akhirnya kembali terbang dan meninggalkan Amer yang kokoh menjaga tekad sekuat baja di bandara. Tapi, keajaiban terjadi.


Pesawat untuk kali kedua harus kembali mendarat karena persoalan teknis. Saat itulah kapten pilot membuat pengumuman mengejutkan dan menggetarkan jiwa.


"Saya bersumpah tidak akan terbang lagi kecuali Amer bersama kita di pesawat ini!” lapor Arynews.


Kalimat ini sontak disambut meriah penumpang. Amer akhirnya naik pesawat dan setelah ia berada di dalam, pesawat pun terbang mulus menuju Tanah Suci.


Alhamdulillah. 


Saya jadi teringat kisah seorang siswa di sekolah yang mendapat giliran khutbah Jumat di Masjid Ash Sholihin. 


Awalnya dia ragu, maju mundur. Takut. Tapi saya bilang satu kalimat sederhana, “Coba saja dulu.” 


Dengan izin Allah, akhirnya dia bisa juga. Bahkan tampil lebih baik dari yang dia bayangkan.


Nilai terbesar dari kisah Amer dan siswa tadi adalah satu kata yaitu optimisme. 


Optimisme ini menjadi hal yang sangat penting. Anak-anak kita hari ini hidup dalam era penuh tantangan, target nilai, perbandingan sosial, standar sosial, serta ekspektasi dari keluarga dan lingkungan. 


Banyak di antara mereka yang sebenarnya cerdas, kreatif, bahkan berbakat, namun tidak melangkah jauh karena terlalu cepat dikalahkan oleh rasa pesimis.


Sebagai pendidik, kita tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran. Kita memikul tanggung jawab moral untuk membangkitkan harapan, menyemai rasa percaya diri, dan menyalakan lentera kecil di dalam hati anak-anak kita yang kadang redup oleh rasa gagal dan takut.


Kadang hanya butuh satu kalimat penyemangat dari seorang guru untuk mengubah masa depan seorang murid.


Bayangkan seorang siswa yang selalu gagal dalam ujian pelajaran. Dalam pikirannya, dia sudah melabeli diri sendiri, "Saya tidak bisa.” 


Namun ketika seorang guru berkata, “Nilaimu memang di bawah KKM, tapi bukan berarti kamu tidak bisa. Mungkin kamu cuma belum menemukan cara pola yang cocok,” kalimat itu bisa menjadi titik balik. 


Bukan hanya untuk pelajaran itu, tetapi untuk seluruh persepsinya terhadap hidup.


Sulistyanto Soejono, Direktur Phi Beta Group, pernah mengingatkan dalam seminar motivasi bahwa hanya 5 persen sampai 10 persen potensi yang ada di didalam setiap individu yang digunakan. Selebihnya 90 persen potensi diri yang ada perlu dieksplorasi. Meskipun angka ini masih dianggap mitos. 


Jadi, daripada bertanya apakah kita hanya menggunakan 10 persen dari otak, lebih baik kita bertanya, "Apa yang bisa kita lakukan untuk mencapai potensi penuh?" Seperti yang dikatakan Hecht, kuncinya adalah terus belajar dan berlatih untuk mengembangkan kemampuan kita secara maksimal.


Kita tidak tahu, mungkin murid yang hari ini merasa tak berguna, kelak menjadi orang yang mengubah dunia. Kita tidak tahu, mungkin satu kalimat kita hari ini menjadi "pesawat” yang akan menerbangkan impian mereka yang nyaris gagal lepas landas.


Maka tanamkan dalam hati anak-anak kita bahwa selama mereka masih hidup, selalu ada kesempatan kedua. 


Dan selama mereka berdoa kepada Allah dan berusaha, selalu ada harapan. 


Barokallohu fiikum. 


Gowa, 31 Mei 2025

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru