Perjuangan Ikut PPG

 


Kusnandar Putra, S.Pd., Gr., M.Sos.


Dalam dunia pendidikan, kualitas guru merupakan salah satu faktor kunci dalam menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. 


Berbagai studi, riset John Hattie, menunjukkan bahwa guru memiliki dampak 30% yang jauh lebih besar terhadap capaian belajar siswa dibandingkan faktor lain. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak negara, termasuk Indonesia, terus mencari cara terbaik untuk memperkuat kapasitas guru. Salah satu ikhtiar penting itu adalah melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG).


PPG bukan sekadar jalur sertifikasi atau formalitas administratif. Ia adalah ruang pembelajaran ulang yang sistematis, tempat guru-guru, baik pemula maupun yang telah lama mengabdi melakukan refleksi mendalam atas praktik mengajar mereka, serta mengaktualisasi kembali peran dan identitas mereka sebagai pendidik profesional.


 Dalam program ini, guru dibimbing untuk memahami kembali esensi dari pembelajaran, bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi membangun makna dan karakter dalam diri peserta didik.


Salah satu elemen utama dalam PPG adalah penguatan kembali kompetensi pedagogik. 


Di sini, para guru diajak kembali menyelami teori-teori pendidikan seperti behaviorisme, konstruktivisme, hingga humanistik, dan bagaimana masing-masing teori itu dapat diterapkan dalam konteks kelas yang beragam.


Materi seperti desain RPP atau modul ajar, pemilihan metode pembelajaran, serta evaluasi formatif dan sumatif, menjadi materi pokok yang tidak hanya disampaikan, tetapi dilatih secara intensif. Guru kembali dilatih menyusun perencanaan pembelajaran berbasis capaian kompetensi dan profil siswa. 


Kalau ingin tugas-tugas ini, masyaallah, butuh pemikiran dan kerja keras. Saya sampai menggunakan canva agar modul ajar terlihat cantik untuk dinilai oleh tim nantinya. 


Nilai tambah dari PPG tidak berhenti di sana. Program ini juga menyesuaikan diri dengan kebutuhan pendidikan kontemporer.


Di era inklusif dan kurikulum merdeka seperti sekarang, guru dituntut mampu mengelola kelas yang heterogen. Oleh karena itu, materi pendidikan inklusif menjadi bagian penting dalam PPG. 


Guru diajak memahami bahwa dalam satu kelas, bisa jadi ada siswa dengan gangguan pemusatan perhatian, siswa dengan hambatan intelektual ringan, atau bahkan siswa dengan latar budaya dan bahasa yang berbeda. Pembelajaran tidak lagi bisa bersifat seragam.


Karena itulah pembelajaran berdiferensiasi menjadi materi kunci berikutnya. Konsep ini menuntut guru untuk mendesain pembelajaran dengan mempertimbangkan tiga hal utama: kesiapan belajar siswa, minat siswa, dan gaya belajar siswa.


Tidak semua siswa nyaman dengan ceramah, bisa jadi dengan berkelompok menjadi solusi. 


Dengan pendekatan ini, guru tak lagi menjadi pusat informasi, melainkan fasilitator dan pendamping pertumbuhan belajar siswa.


PPG juga memperkenalkan praktik studi kasus, di mana guru diberi permasalahan riil di kelas, misalnya siswa yang pasif, kelas yang gaduh, atau hasil belajar yang rendah lalu diminta menganalisis akar masalah dan menyusun rencana pembelajaran yang solutif.


Namun, perjalanan PPG bukanlah jalan tol yang mulus. Setiap peserta harus melewati ujian yang cukup menantang: Uji Kinerja (UKin) dan Ujian UTBK.


UKin menilai sejauh mana guru mampu merancang, melaksanakan, dan merefleksikan pembelajaran dalam bentuk rekaman video yang diunggah secara daring. 


Saya sampai bawa tripod dari rumah, mic wireless, dll untuk UKin ini. Rekam 2 x 35 menit pembelajaran tanda jeda tingkat SMP. 


Sementara ujian UTBK menguji kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian secara terintegrasi. Proses ini menuntut kesiapan teknis dan emosional.


Saya sendiri mengalami betapa butuh keseriusan. Saat mengerjakan UTBK, saya harus meminjam laptop dari teman hanya demi memastikan proses berjalan lancar. Saya cari lokasi untuk koneksi internet yang stabil untuk ujian. 


PPG menjadi pengalaman transformasional. Ia menyegarkan kembali semangat sebagai guru. PPG membentuk ulang cara pandang terhadap siswa, terhadap pembelajaran, bahkan terhadap diri sendiri sebagai pendidik.


 Ia adalah ruang untuk kembali belajar, tidak hanya tentang cara mengajar, tetapi tentang makna menjadi guru.


 Maka, selagi kita masih mengajar, selagi kita masih mendidik anak bangsa, mari kita terus membuka ruang untuk belajar ulang, bertumbuh, dan bertransformasi. PPG hanyalah salah satu langkah, tapi ia adalah langkah penting menuju guru Indonesia yang profesional, reflektif, berdaya saing global, dan menjadi amal jariah. 


Gowa, 8 Mei 2025

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru