Tanggung Jawab Intelektual Guru

 

Kusnandar Putra


Dalam dunia pendidikan, ada tantangan nyata yang kerap hadir di ruang kelas namun tidak selalu tampak jelas di permukaan, yaitu munculnya ketidakpahaman siswa terhadap konsep-konsep dasar. 


Ini sebuah isyarat bahwa dalam dinamika belajar, terkadang kita perlu berhenti sejenak untuk merenung, sudahkah semua siswa benar-benar memahami fondasi yang mereka perlukan?


Sebagai contoh, ada kalanya siswa yang sudah berada di tingkat lanjutan ternyata belum memahami operasi dasar seperti penjumlahan, atau belum bisa memanipulasi bentuk aljabar sederhana seperti a=b/c untuk menemukan nilai c. 


Ketika hal ini terjadi, bukan berarti guru telah gagal, melainkan guru diberi kesempatan kedua untuk menguatkan kembali dasar yang mungkin belum sempat terbangun dengan kokoh. 


Tidak ada yang lebih mulia dari seorang guru yang bersedia berhenti sejenak demi memastikan tidak ada siswa yang tertinggal dalam pemahaman.


Pendidikan bukan perlombaan kecepatan, melainkan perjalanan pemahaman. Ini yang harus dipahami juga. 


Dalam perjalanan itu, setiap siswa berhak mendapat waktu dan ruang untuk benar-benar memahami apa yang sedang mereka pelajari. 


Hal serupa juga berlaku dalam pendidikan akhlak. Misalnya, saat seorang guru melihat anak makan dengan tangan kiri dan anak tersebut lupa adab yang sesuai, maka momen itu adalah peluang emas untuk menanamkan nilai kebaikan.


Dari ‘Umar bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,


يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ


“Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu.”


Lihat, betapa lembut penanaman adab yang dilakukan Rasulullah shallahu alayhi wasallam. 


Menegur dengan lembut adalah bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar yang dapat dilakukan dengan kasih sayang. Itu bukti kepedulian guru yang tidak hanya membimbing pikiran, tetapi juga membina adab. 


Sebagai pendidik, kita semua sedang belajar. Tidak ada guru yang sempurna, seperti halnya tidak ada murid yang tanpa kekurangan.


Namun yang menjadikan amanah ini begitu mulia adalah komitmen untuk terus memperbaiki, terus hadir, dan terus menyentuh sisi terdalam dari proses belajar, yaitu niat dan menggapai rida Allah subhanahu wa taala. 


Dengan semangat itu, mari kita pandang setiap ketidaktahuan sebagai peluang untuk menerangi, setiap kekeliruan sebagai momen untuk membimbing, dan setiap lupa untuk saling mengingatkan. 


Barokallohu fiikum. 


Gowa, 28 Mei 2025



Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru