Tangis Haru di Aula Arafah: Ketika 156 Jamaah Makassar Siap Berangkat ke Baitullah

 



Kusnandar Putra


Suasana haru dan khidmat menyelimuti Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar. Isak pelan terdengar bersahutan, menyatu dengan doa-doa yang melangit.


Pada hari itu, 156 jamaah haji asal Kota Makassar dari Kloter 8 secara resmi dilepas, memulai babak baru dari perjalanan suci mereka menuju Tanah Suci.


Setelah seluruh rangkaian administrasi dan layanan diselesaikan, para jamaah diarahkan menuju wisma asrama untuk beristirahat, menyiapkan raga dan jiwa sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi pada hari ini, Selasa pagi, 6 Mei 2025, pukul 08.40 WITA. Sebuah tanggal yang akan mereka kenang seumur hidup, hari ketika mereka menjadi tamu Allah.


Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar, Kakanwil Kemenag Sulsel H. Ali Yafid, menyampaikan bahwa kuota haji untuk Sulawesi Selatan tahun ini mencapai 7.272 orang, bagian dari total kuota nasional Indonesia yang mencapai 221 ribu jemaah.


Angka-angka ini bukan sekadar data, melainkan saksi atas harapan dan doa yang terkumpul selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.


Keutamaan ibadah haji begitu agung. Dalam Al-Qur’an dan sunnah, ia disebut sebagai amalan paling afdhol, 


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, 


“Amalan apa yang paling afdhol?” 


Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 

“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” 


Ada yang bertanya lagi, 

“Kemudian apa lagi?” 


Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” 


Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” 


“Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

(HR. Bukhari no. 1519)


Keutamaan lainnya, haji merupakan jihad di jalan Allah, penghapus dosa dan kefakiran, serta jalan menuju surga bagi mereka yang menunaikannya dengan ikhlas. Mereka yang berhaji adalah tamu Allah, undangan Allah. 


Ingatan akan kisah Syaikh Utsman Dabu dari Republik Gambia menyeruak dalam benak. Lima puluh tahun lalu, beliau bersama empat kawannya berjalan kaki dari Banjul menuju Makkah untuk berhaji. Menembus benua Afrika dari Barat ke Timur tanpa kendaraan, hanya sesekali mengendarai hewan, hingga tiba di Laut Merah untuk menyeberang ke Jeddah. 


Perjalanan penuh keistimewaan itu memakan waktu dua tahun. Kadang mereka berhenti untuk bekerja, dan mengumpulkan bekal, sebelum kembali melangkah. Tapi tak semua sampai.


Tiga orang di antara mereka meninggal dalam perjalanan. Salah satu dari mereka, sebelum mengembuskan napas terakhir di atas lautan, berpesan dengan suara parau,


"Jika kalian tiba di Masjidil Haram, sampaikan pada Allah rinduku yang tak pernah padam. Mintalah pada-Nya, agar aku dan ibuku kelak dikumpulkan bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam."


Syaikh Utsman pun menuturkan, saat ia melihat Ka’bah untuk pertama kalinya, tubuhnya seketika lunglai. Ia bersujud, menangis seperti anak kecil. Tangisan yang lahir dari rasa takjub, dari rindu yang akhirnya terjawab. Namun di balik tangis syukur itu, terbit rasa pilu. Ia mengenang sahabat-sahabatnya yang tak sempat menatap Baitullah, dan dalam sujudnya, ia memohon pada Allah agar langkah-langkah mereka tetap dicatat sebagai amal kebaikan.


Kini, 393 jamaah dari kloter I Makassar itu tengah bersiap menyusuri jejak melaksanakan rangkaian ibadah haji. Mereka bukan hanya hendak menunaikan rukun Islam kelima, tapi juga tengah menuju titik balik kehidupan. 


Semoga Allah membekali jamaah haji kita dengan takwa, mengampuni dosa-dosa mereka, dan memudahkan mereka dalam jalan kebaikan di mana pun berada. Amin. 


Dan kita bermohon kepada Allah agar Allah memudahkan kaum muslimin yang belum sempat berhaji, agar Allah pun memudahkan berangkat ke tanah suci. Amin. 


Makassar, 6 Mei 2025

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru