GAGAL..GAGAL.. PILDUN
Kekalahan Indonesia 1–0 dari Irak dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia kembali menjadi bahan perbincangan hangat. Di media sosial, berbagai komentar muncul seperti gelombang tak berujung.
Fenomena ini sebetulnya bukan hanya tentang sepak bola, tapi tentang cara kita sebagai bangsa menghadapi kegagalan. Tentang bagaimana kita mudah menuntut orang lain menang, padahal kita sendiri tak pernah benar-benar berjuang untuk menjadi pemenang dalam hidup.
Kita terlalu terbiasa menjadi komentator kehidupan. Ketika tim nasional gagal, kita merasa punya hak untuk menghakimi.
Dengarkan ini..
Jangan hanya menjadi penonton budiman yang pandai berkomentar, tapi miskin karya. Jangan merasa diri hebat karena bisa menilai, padahal belum pernah mencipta sesuatu yang layak dinilai.
Itulah sebabnya, di dunia digital yang penuh opini ini, kita menemukan banyak pengkritik, tapi sedikit pekerja. Banyak yang memimpikan orang lain memang, sementara dia sendiri tidak pernah menang. Fatal.
Jadi sebelum menulis komentar pedas di media sosial, berhentilah sejenak. Tanyakan pada diri sendiri, sudahkah saya berprestasi seperti yang saya tuntut dari mereka?
Kekalahan tim nasional memang ada baper, tapi lebih menyakitkan lagi adalah ketika kita sadar bahwa selama ini kita juga “kalah” dalam hidup.
Kalah dalam disiplin salat, kalah dalam komitmen jujur, kalah dalam ketekunan, kalah karena belum membanggakan orang tua.
Lihatlah bagaimana sebagian besar dari kita belum pernah menuntaskan cita-cita kecil yang kita buat sendiri.
Berapa banyak buku yang tak pernah kita selesaikan?
Berapa banyak janji yang tak pernah kita tepati?
Berapa banyak dari kita yang belum membahagiakan orang tua, istri, dan anak-anak?
Dan berapa banyak doa yang kita panjatkan tanpa diiringi usaha yang nyata?
Jadi, daripada memaki kekalahan, mari belajar memaki diri sendiri. Karena sering kali, sumber kegagalan terbesar ada di cermin yang kita tatap setiap pagi.
Mulailah dengan memperbaiki diri, membangun kedisiplinan, dan menciptakan prestasi kecil yang berarti. Karena bangsa besar bukan dibangun oleh penonton yang banyak, melainkan oleh pejuang yang mau berjuang bahkan tanpa disorot kamera.
Disusun: Kusnandar Putra

Comments
Post a Comment