DAI HARUS MENULIS
Kusnandar Putra
Apakah dakwah bisa dari jalur pena?
Sejarah peradaban Islam justru juga dibangun oleh para dai dan ulama yang menjadikan pena sebagaik ikhtiar perubahan.
Lihatlah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah. Beliau produktif dalam kondisi paling sulit sekalipun. Sebagian karyanya justru lahir dari balik penjara. Melalui Majmu’ al-Fatawa, ia tidak hanya menjawab persoalan zamannya, tetapi meletakkan kerangka berpikir tauhid, ushul fiqih, tafsir, dan hadis yang terus dikaji hingga hari ini. Dakwahnya tidak bergantung pada ruang dan waktu, karena ia menulis.
Demikian pula Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahullah perjuangannya terletak pada lisan dan tulisan. Kitab at-Tauhid bukan sekadar buku kecil, melainkan manifestasi memurnikan akidah dengan argumentasi Al-Qur’an dan Sunnah yang sistematis. Ia sadar bahwa pendidikan tauhid harus ditulis agar dapat dipelajari dan diwariskan.
Imam an-Nawawi rohimahullah meninggalkan jejak literasi yang sangat banyak. Riyadhus Shalihin, al-Arba’in an-Nawawiyah, dan syarah-syarah hadisnya menjadi rujukan lintas mazhab dan generasi. Begitu pula Imam asy-Syafi’i, yang melalui al-Risalah meletakkan fondasi ushul fikih.
Jika ditarik ke konteks kebangsaan, amanat konstitusi menegaskan bahwa kehidupan bangsa harus dicerdaskan, iman dan takwa harus ditumbuhkan, serta akhlak mulia harus dibangun.
Dakwah memiliki peran strategis dalam misi ini. Namun dalam perjalanannya, harapan besar ini kadang tidak semua dai mau melakukannya.
Hambatan terbesar dai untuk menulis sering kali bukan ketidakmampuan, kadang belum tahu mulai dari mana. Atau sudah cukup dengan dakwah yang ada di mimbar.
Padahal tulisan justru melatih keterampilan. Dai yang menulis sedang mengajarkan umat bahwa aqidah lurus harus dijaga, hadis shahih yang seperti apa, akhlak yang baik bagaimana bentuknya, dan masih banyak lagi.
Di tengah kebisingan opini yang menyesatkan di luar sana, dai yang menulis menghadirkan jalan keluar. Ia tidak hanya berbicara untuk hari ini, tetapi menyiapkan bekal di akhirat kelak.
Di era digital hari ini, alasan untuk tidak menulis sudah tidak ada lagi. Media terbuka luas, sarana tersedia, dan umat membutuhkan rujukan yang lurus di tengah banjir informasi.
Dai yang menulis artikel, buku, sedang menunaikan amanah intelektual, yaitu menjaga kemurnian agama dari kesalahpahaman dan penyimpangan.
Maka dakwah harus hidup di halaman-halaman tulisan. Ia harus hidup dan menetap dalam kata. Sebab dakwah yang ditulis adalah dakwah yang melampaui usia, melintasi generasi, dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Mungkin saja betapa banyak kebenaran yang ikut terkubur, hanya karena ia tak sempat dituliskan.
Maka menulislah, wahai Para Dai, sebelum tangan ini kaku dan waktu tak lagi memberi ruang.
Menulislah, bukan untuk dikenang manusia, tetapi agar kelak di hadapan Allah kita bisa berkata, "Ya Rabb, aku telah berusaha menyampaikan agama-Mu dengan menulis."
Wallohu a'lam. Barokallohu fiikum.
Gowa, 11 Januari 2026

Comments
Post a Comment