Guru Membantu Keshalihan Siswa











Kusnandar Putra

Selain pengajar mata pelajaran, guru memegang peran jauh lebih besar, yaitu membantu membentuk keshalihan siswa. Sekaligus, menuntun mereka menuju masa depan yang sukses, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.


Guru tidak cukup hanya mencerdaskan, tetapi juga membantu membangun keshalihan. 


Secara faktual, dunia pendidikan hari ini menghadapi tantangan serius. Berbagai laporan dan kajian pendidikan menunjukkan bahwa persoalan karakter, malas ibadah, etika, dan tanggung jawab sosial siswa menjadi perhatian utama. Fenomena perundungan, tidak shalat, rendahnya empati, budaya instan menjadi PR bersama di dunia pendidikan. 


Nilai keshalihan bisa hadir dalam sikap sederhana namun konsisten. Guru sains mengajarkan kejujuran dalam penelitian, guru bahasa yang mengajarkan etika berkomunikasi sebagaimana Rasulullah shallallahu alayhiwasallam, semuanya adalah bentuk pendidikan nilai. 


Banyak guru yang sudah melakukan hal baik seperti ini. Ada seorang guru yang selalu memulai pelajaran dengan mengingatkan pentingnya niat ikhlas dalam belajar. Ada yang menanamkan urgensi istiqomah dalam beribadah, dll. 


Guru yang peduli pada keshalihan siswa sejatinya sedang membantu siswa meraih kesuksesan jangka panjang. Kesuksesan tidak hanya diukur dari karier dan materi, tetapi dari kemampuan menjalani hidup dengan integritas. Siswa yang memiliki mujahadah dalam beribadah, dan istiqomah. 


Untuk mewujudkan peran ini, diperlukan langkah-langkah konkret dan realistis. 


Pertama, guru perlu menata kembali mindset profesinya. Bahwa mengajar juga mendidik manusia. Kesadaran ini akan memengaruhi cara guru berinteraksi, menegur, dan membimbing siswa dalam keseharian.


Kedua, integrasi nilai dalam pembelajaran perlu dilakukan dengan pendekatan Islami. Semua pelajaran bisa menanamkan nilai tauhid, kejujuran, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi keshalihan dalam kehidupan nyata.


Ketiga, guru perlu membangun relasi humanis dengan siswa. Ketika siswa merasa dihargai dan didengarkan, nasihat akan lebih mudah diterima.


Allah azza wajja berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 159


فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ


"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu."


Keempat, sinergi antara guru, orang tua. Saling mendukung dan support. 


Ketika guru menyadari dan menjalankan peran ini dengan sungguh-sungguh maka dia tidak hanya sedang mengantarkan siswa menuju kesuksesan dunia, tetapi juga turut menanam amal jariah yang nilainya melampaui ruang dan waktu.


Guru yang membantu keshalihan siswa sejatinya sedang membangun masa depan bangsa. Dan masa depan yang baik selalu dimulai dari manusia yang shalih. 


Barokallohu fiikum


Gowa, 13 Januari 2026

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru