Lulusan Agama yang Tidak Berdakwah

 


Kusnandar Putra


Di tengah masyarakat yang haus tuntunan, kita justru menyaksikan sebuah ironi. Ada lulusan jurusan agama memilih menjauh dari ruang dakwah. 


Diantara mereka sibuk membangun bisnis, mengejar kenyamanan hidup, dan menata karier pribadi, sementara ilmu agama yang pernah dipelajari bertahun-tahun seolah berhenti di ijazah. 


Fenomena ini patut disesalkan, bukan karena bisnis itu salah, tetapi karena dakwah justru ditinggalkan oleh orang-orang yang paling siap memikulnya.


Lulusan agama yang tidak berdakwah adalah kehilangan besar bagi umat. Ketika dia lebih memilih diam dan fokus pada urusan dunia semata, ada amanah keilmuan yang terabaikan. 


Ilmu agama tidak lahir untuk disimpan rapi, tetapi untuk dihidupkan di tengah masyarakat yang penuh persoalan moral, spiritual, dan sosial.


Apalagi, tantangan keumatan hari ini semakin kompleks. Sebagaian masyarakat belum paham tauhid dan adanya pergeseran akhlak. 


Di saat seperti ini, kehadiran pendakwah yang berilmu sangat dibutuhkan.


Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Salah satu penyebab utama adalah perubahan orientasi hidup. 


Bagi sebagian lulusan agama, dakwah dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. 


Dunia usaha dipersepsikan lebih stabil, lebih menjanjikan, dan lebih “nyaman”. Astagfirullah. 


Akibatnya, dakwah diposisikan sebagai aktivitas sampingan, bahkan ada yang sama sekali ditinggalkan. Cara pandang ini perlahan menggeser dakwah dari panggilan hidup menjadi sekadar hobi opsional.


Penyebab lain adalah citra dakwah yang sering disalahpahami, lulusan agama kadang malu. 

Di ruang publik yang sensitif, berdakwah memang membutuhkan keberanian. Namun menjauh sepenuhnya bukanlah solusi. Ketika ruang dakwah ditinggalkan oleh orang yang berilmu, ruang itu akan diisi oleh mereka yang minim pemahaman namun lantang bersuara. 


Perlu ditegaskan bahwa berdakwah tidak identik dengan meninggalkan dunia usaha. Dakwah dan bisnis bukan dua kutub yang saling meniadakan. Justru, sejarah Islam menunjukkan ada banyak pendakwah tapi juga bekerja atau bisnis. 


Masalahnya bukan pada bisnisnya, melainkan pada hilangnya orientasi dakwah. Ketika bisnis menjadi tujuan akhir, dakwah tersingkir. 


Lulusan agama memiliki privilage, kehadirannya memberi dampak yang jauh lebih besar. Diamnya lulusan agama bukanlah sikap netral, melainkan kehilangan peluang pahala jariah. 


Solusi dari persoalan ini harus dimulai dari kesadaran personal. 


Pertama, lulusan agama perlu menata ulang niat dan orientasi hidupnya.


Allah azza wajallah berfirman, 


وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ 


Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. 

(Surah Al Bayyinah ayat 5) 


Ilmu agama adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Berdakwah tidak selalu harus di mimbar besar. Mengisi kajian, menulis, membina remaja masjid atau TPA, membuat konten agama. 


Kedua, perlu ada redefinisi dakwah yang lebih kontekstual. Dakwah tidak harus selalu formal dan kaku. Ia bisa hadir di ruang digital, atau di media sosial. 


Ketiga, lembaga pendidikan agama juga perlu menanamkan kesadaran sejak dini bahwa dakwah adalah tanggung jawab seumur hidup, bukan fase sementara selama kuliah. Kurikulum dan pembinaan alumni seharusnya mendorong lulusan untuk tetap hadir di masyarakat, apa pun profesinya.


Keempat, masyarakat perlu memberi ruang dan dukungan. Dakwah yang tumbuh di kompleks yang menghargai ilmu dan kehadiran ustadz.


Pada akhirnya, masyarakat menanti dakwah lulusan agama. Karena ilmu agama yang tidak disampaikan akan hilang. 


Lulusan agama seharusnya tampil di tengah masyarakat, bukan bersembunyi di balik kesibukan pribadi. Mencari nafkah silakan, tetapi dakwah tidak boleh ditinggalkan. 


Barokallohu fiikum


Makassar, 13 Januari 2026

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jumat: 5 Bahaya Judi Online

Air Ajaib? Faktanya Air PDAM yang Bocor

Pertemuan Setelah 13 Tahun: Sebuah Renungan tentang Menjadi Guru