Posts

Doktor dan Tanggung Jawab Intelektual di Ruang Publik

Image
Kusnandar Putra Di tengah riuh rendah terjadi di media sosial, publik sering disuguhi narasi yang saling mengundang, bahkan tidak jarang melempar. Isu agama, pendidkan, hingga persoalan sosial dengan mudah dipelintir demi kepentingan kelompok tertentu.  Ironisnya, pada saat ruang publik membutuhkan tulisan jernih dan referensi yang dapat dipercaya, tidak semua kaum terdidik, termasuk lulusan program doktor, hadir sebagai pencerah.  Padahal, di titik inilah ekspektasi masyarakat terhadap para dokter sesungguhnya berada. Program Lulusan Doktor tidak boleh berhenti sebagai pembelajaran yang sekadar produktif menulis jurnal dan meneliti demi kepentingan karir atau akreditasi.  Mereka diharapkan tampil sebagai aktor intelektual yang berani menawarkan solusi atas berbagai tantangan kebangsaan. Gelar doktor bukan sekedar simbol prestise, melainkan indikasi atas penguasaan keahlian dan kompetensi tinggi yang seharusnya berdampak nyata bagi masyarakat luas. Fakta menunjukkan, dala...

Ke Mana Perginya Anak Pesantren?

Image
Kusnandar Putra Hari kita kita mesti bertanya, dimana anak pondok sekarang yang dulu hafal Al-Qur’an, bisa imam, rangking di pondok?  Mereka menjadi harapan masyarakat. Namun, seiring waktu, nama-nama itu perlahan menghilang dari masyarakat. Tidak tampak perannya di tengah umat. Ilmu yang dulu dihafal, kini seolah tak meninggalkan bekas. Padahal, ilmu agama yang tidak hadir di tengah masyarakat adalah kerugian besar, bukan hanya bagi pemilik ilmu, tetapi juga bagi umat secara luas. Anak pesantren yang memiliki hafalan Al-Qur’an, ilmu, namun memilih sepenuhnya menarik diri dari peran sosial keumatan, sedang menyia-nyiakan amanah besar yang pernah dia terima. Ada anak pesantren yang setelah lulus SMA atau madrasah dan memasuki fase kuliah, kerja, atau berkeluarg, semua kemampuan itu berhenti.  Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan orientasi hidup. Ketika seseorang memasuki dunia kerja dan mengejar ekonomi, perhatian terhadap peran sosial sering terpinggirkan.  Dunia...

Lulusan Agama yang Tidak Berdakwah

Image
  Kusnandar Putra Di tengah masyarakat yang haus tuntunan, kita justru menyaksikan sebuah ironi. Ada lulusan jurusan agama memilih menjauh dari ruang dakwah.  Diantara mereka sibuk membangun bisnis, mengejar kenyamanan hidup, dan menata karier pribadi, sementara ilmu agama yang pernah dipelajari bertahun-tahun seolah berhenti di ijazah.  Fenomena ini patut disesalkan, bukan karena bisnis itu salah, tetapi karena dakwah justru ditinggalkan oleh orang-orang yang paling siap memikulnya. Lulusan agama yang tidak berdakwah adalah kehilangan besar bagi umat. Ketika dia lebih memilih diam dan fokus pada urusan dunia semata, ada amanah keilmuan yang terabaikan.  Ilmu agama tidak lahir untuk disimpan rapi, tetapi untuk dihidupkan di tengah masyarakat yang penuh persoalan moral, spiritual, dan sosial. Apalagi, tantangan keumatan hari ini semakin kompleks. Sebagaian masyarakat belum paham tauhid dan adanya pergeseran akhlak.  Di saat seperti ini, kehadiran pendakwah yang b...

Guru Membantu Keshalihan Siswa

Image
Kusnandar Putra Selain pengajar mata pelajaran, guru memegang peran jauh lebih besar, yaitu membantu membentuk keshalihan siswa. Sekaligus, menuntun mereka menuju masa depan yang sukses, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Guru tidak cukup hanya mencerdaskan, tetapi juga membantu membangun keshalihan.  Secara faktual, dunia pendidikan hari ini menghadapi tantangan serius. Berbagai laporan dan kajian pendidikan menunjukkan bahwa persoalan karakter, malas ibadah, etika, dan tanggung jawab sosial siswa menjadi perhatian utama. Fenomena perundungan, tidak shalat, rendahnya empati, budaya instan menjadi PR bersama di dunia pendidikan.  Nilai keshalihan bisa hadir dalam sikap sederhana namun konsisten. Guru sains mengajarkan kejujuran dalam penelitian, guru bahasa yang mengajarkan etika berkomunikasi sebagaimana Rasulullah shallallahu alayhiwasallam, semuanya adalah bentuk pendidikan nilai.  Banyak guru yang sudah melakukan hal baik seperti ini. Ada seorang guru yang ...

KESOMBONGAN PEROKOK SAAT BERKENDARA

Image
Kusnandar Putra Pernahkah perokok itu merenung, apa dampak ketika sebatang rokok dinyalakan di jalan raya, sementara di belakang dan di samping ada orang lain yang ikut menghirup asapnya? Merokok sambil berkendara sering dianggap hal kecil, sekadar kebiasaan pribadi yang tidak perlu dipersoalkan.  Padahal, di ruang publik seperti jalan raya, tidak ada tindakan yang sepenuhnya pribadi. Asap rokok tidak berhenti di paru-paru perokok, tetapi menyebar, menempel pada pakaian pengendara lain, masuk ke napas anak-anak yang dibonceng, dan terhirup oleh siapa pun yang kebetulan berada di jalur yang sama.  Dalam konteks sosial, tindakan ini mencerminkan sikap merasa berhak atas ruang bersama, seolah kenyamanan diri sendiri lebih utama daripada hak orang lain untuk menghirup udara yang bersih. Dalam ajaran Islam, prinsip dasar muamalah adalah tidak menimbulkan mudarat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.  Rasulullah shallallahu alayhi wasallam bersabda لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِ...

DAI HARUS MENULIS

Image
Kusnandar Putra Apakah dakwah bisa dari jalur pena?  Sejarah peradaban Islam justru juga dibangun oleh para dai dan ulama yang menjadikan pena sebagaik ikhtiar perubahan.  Lihatlah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah. Beliau produktif dalam kondisi paling sulit sekalipun. Sebagian karyanya justru lahir dari balik penjara. Melalui Majmu’ al-Fatawa, ia tidak hanya menjawab persoalan zamannya, tetapi meletakkan kerangka berpikir tauhid, ushul fiqih, tafsir, dan hadis yang terus dikaji hingga hari ini. Dakwahnya tidak bergantung pada ruang dan waktu, karena ia menulis. Demikian pula Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahullah perjuangannya terletak pada lisan dan tulisan. Kitab at-Tauhid bukan sekadar buku kecil, melainkan manifestasi memurnikan akidah dengan argumentasi Al-Qur’an dan Sunnah yang sistematis. Ia sadar bahwa pendidikan tauhid harus ditulis agar dapat dipelajari dan diwariskan. Imam an-Nawawi rohimahullah meninggalkan jejak literasi yang sangat banyak. Riyadh...

Dilema Menghadirkan Islam di Ruang Publik

Image
  Kusnandar Putra Fenomena sosial yang cukup mengemuka di tengah umat adalah munculnya rasa sungkan atau dalam bahasa awam disebut “malu” untuk menampilkan identitas dan nilai Islam di ruang publik.  Bisa saja. . Sikap tersebut muncul dalam bentuk enggan menegur seseorang yang makan dengan tangan kiri atas nama sopan santun atau membiarkan ucapan-ucapan yang tidak pantas tanpa menegur persuasif.  Ada lagi seorang santri, di sekolah dia pakai kopiah, baju gamis, tapi ketika di mall sudah beda. Lepas kopiah, baju gaul.  Padahal, Islam sejatinya dihadirkan sebagai rahmat yang membawa kebaikan bagi seluruh aspek kehidupan manusia. Rasa minder ini juga tampak dalam ekspresi keberagamaan sehari-hari.  Tidak sedikit yang malu mengucapkan salam di ruang kerja yang heterogen, enggan meninggalkan kepentingan duniawi untuk menunaikan shalat tepat waktu, bahkan segan menyuarakan kebenaran karena takut dinilai sok suci. Takut diklaim "Ustadz".  Padahal, justru keberania...